panduansangpetualang.com

Masjid Jami' An-Nawier

Surel Cetak PDF

panduansangpetualang.com

Pernah berfungsi sebagai benteng pertahanan. Masjid yang punya sejarah luar biasa ini  telah menjadi pusat para pengemban pesan.

Bukan main sulitnya saat mencari masjid ini. Soalnya, lokasinya berada di antara impitan perkampungan penduduk yang cukup padat. Untuk sampai kesana Anda harus berjuang  menembus kemacetan hebat.

Sederhana sekali. Namun dari balik kesederhanaannya, tempat ibadah tertua di Jakarta ini punya daya pikat sejarah kuat. Menyampaikan amanat dan bercerita tentang pengembangan Islam.

Masjid ini kerap memancarkan hawa religius  yang menyejukkan hati.  Hawa itu terasa kuat buat mereka yang baru pertama kali mengunjunginya. Rasa tentram dan keingintahuan mendalam  kemudian timbul kepada bangunan yang mampu menampung 1.500 jamaah itu.

Masjid yang berlokasi di Jalan Pekojan Raya No. 71, Jakarta Barat ini didirikan pada tahun 1761 M atau 1180 H. Sang pendiri adalah seorang keturunan Arab yang bernama Syarifah Fatimah binti Husein Al Idrus, yang konon adalah keturunan Nabi Besar Muhammad. Masjid ini sudah banyak mengalami pemugaran. Salah satunya dilakukan oleh Komandan Dahlan, seorang anggota pasukan Kesultanan Banten  yang setia mendukung Fatahillah pada saat bertempur melawan penjajah merebut pelabuhan Sunda Kelapa. Berkatnya, masjid mengalami perluasan dan perbaikan, sebelum kemudian direnovasi lagi tahun 1850.

Demi menghargai pendiri masjid, para pengelola  mempertahankan makamnya yang berada di sebelah barat masjid. Makamnya pula yang membuat banyak para pengunjung datang untuk berziarah atau sekadar mencari tahu sosok dan riwayat hidupnya.

Beberapa kali renovasi membuat bentuk dan gaya  arsitektur masjid menjadi beragam, mengikuti pergantian budaya warga di sekitar pada tiap zamannya. Kini, masjid tua itu terlihat bergaya arsitektur Belanda, Jawa, Arab, dan sedikit sentuhan China. Tanpa menghilangkan bentuk aslinya dalam renovasi, tentu saja paduan itu tampak mengesankan.

Dulu, masjid ini dikenal juga dengan nama Masjid Pekojan. Istilah Pekojan berasal dari kata Koja, kata bahasa Arab yang kerap diperuntukkan bagi para pedagang. Apa pun namanya perjuangannya tetap satu. Masjid yang memiliki mimbar ukiran menarik hadiah dari Sultan Pontianak itu punya satu misi,  menjadi pusat pengembangan Islam sejak zaman Kolonial Belanda. (*)

Teks : Edi Dimyati, Foto: Gunawan

Share

© 2011 Panduansangpetualang.Com, All rights reserved |Design by Ulum Zulvaton